Rabu, 06 Mei 2009

My Father’s Advices

My Father’s Advices


Perjalanan waktu terasa cepat sekali, tak terasa detik demi detik yang aku miliki lenyap dengan mudahnya tanpa menghasilkan apa-apa. Apakah ini harapanku, apakah hal seperti ini akan tetap ada dan selalu kulakukan setiap harinya. Apakah aku tak iri dengan orang-orang sukses yang kerjanya tinggal duduk di kantornya akan tetapi banyak meraih uang. Apakah aku tak mau itu?


Kalau kita mau sadar betapa tingginya nilai yang dimiliki oleh waktu, aku mungkin bisa berasumsi bahwa kebanyakan dari kita akan menggunakannya sebaik mungkin, tapi inilah pertanyaanku, mengapa aku tak sadar dengan nilai yang waktu miliki itu. Kita boleh berbeda mengenai warna kulit, berbeda bangsa dan negara, berbeda keturunan, tapi satu yang mesti kita camkan baik-baik, dia adalah “ how we can spend our time well ”.

Aku masih teringat dengan omongan-omongan ayahku. Betapa beliau ingin menyekolahkankan ke jenjang yang lebih tinggi karena waktu beliau muda cita-cita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi belum sempat terealisasikan. Sehingga beliau selalu berucap kepadaku,” nak, aku beruntung bisa mensekolahkanmu sampai jenjang yang lebih tinggi, aku jadi merasa puas, bagaimana aku dulu sempat merasakan kesedihan karena tak mampu meneruskan sekolahku dulu, tapi sekarang aku bahagia karena kau telah membayar kekecewaan yang telah aku rasakan dulu, aku berharap padamu nak tuk menjadi orang sukses nantinya ”.

Aku tak mengira betapa besar pengorbanan ayahku untuk melakukan hal seperti ini dengan susah payah, rela meninggalkan keluarga dan melancong kesana kemari demi menyediakan fasilatas untuk anaknya dalam sekolah. Istri dan anak-anaknya beliau tinggal bertahun-tahun lamanya, sampai tau-tau anak-anaknya sudah pada tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Aku harus sadar itu, aku ngga boleh putus asa dalam menjalani roda pendidikan ini yang selalu aja membuatku bosan dan jenuh. Tapi kalau kita mau memikirkan sejenak mengenai pendidikan, kita coba menerobos celah-celah lubang masa depan yang akan kita jumpai nantinya. Pasti kita akan menemukan, mengapa kita selalu ditekankan oleh orang tua kita untuk selalu mengembangkan diri baik itu segi intelektual maupun keterampilan. Sebab tantangan yang akan kita hadapi nanti jauh lebih sulit dari pada orde lama dan orde baru yang ayah-ayah kita rasakan pada zaman dahulu itu.

Sebelum aku merasakan penyesalan dikemudian hari, lebih baik aku siapkan langkah dan geraku ini. Aku tak mau Ayahku nanti mengalirkan air matanya untuk kedua kalinya. Aku tak mau orang disekelilingku akan mencelaku nantinya. Maka sebelum terlambat, lebih baik aku atur sebaik mungkin, memang tak semudah yang kita bayangkan, tapi apa salahnya kalau kita mau mencoba lebih dulu, sebab kebanyakan orang kalau belum mencoba untuk melakukan sesuatu yang padahal itu mudah, pasti mereka berasumsi itu sangat sulit. Berbeda dengan orang yang mau mencobanya, walau mulanya terasa sulit, tapi kalau sudah dikerjakannya pasti butir-butir kepuasan akan dia peroleh.

Penulis dalam tulisannya ini mencoba untuk memberikan gambaran kepada pembaca bagaimana orang tua kita yang kita sayangi dan hormati telah melakukan banyak pengorbanan, waktu mereka rela mereka habiskan demi kita, apakah kita masih tak mau sadar dan mengerti bagaimana mereka sangat mengharapkan kesuksesan kita nantinya. So, in the last my writing, I’ll to say, don’t make your family sadness about your actions, but make them cheers and happy.

Cairo, 2009 May, 6

1 komentar:

hasna mengatakan...

Yes, Super Dad...
I have that one....