Kamis, 12 November 2009

The secret road to success

The secret road to success


Kita terkadang tertipu dengan kondisi di sekitar kita, kondisi yang membuat kita banyak melakukan sesuatu yang tak bernilai. Bukankah ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan kita sebagai insan yang pandai. Ketika ku terbayang dengan kehidupan dimasa mendatang, ku selalu tancapkan gambaran-gambaran terindah yang ingin kudapat. Bayangan indah yang ingin sekali kudapatkan dengan cepatnya.


Akan tetapi terkadang gambaran itu pudar disebabkan ketidaksiapanku untuk mendapatkanya. Salah satu faktor yang membuatku tidak siap adalah kemalasanku, sehingga akupun kurang berani dan kurang sekali bekal yang aku bawa.
Aku selalu berucap dalam diriku ini,”Waktu itu berjalan seiring berputarnya bumi, apakah kita hanya bisa terdiam dan menunggu nasib?”.

Kitapun sering mendengar nasehat-nasehat dari orang yang lebih tua dari kita, ketika mereka berucap”Hai anak muda, penuhilah dirimu dengan berbagai bekal tuk hari esok, sebab aku merasa menyesal dulu aku tak berbekal yang banyak”. Apakah nasehat yang meraka katakan ke kita tidak memberi manfaat, apakah memang kita tak bisa memahami akan substansi dari isi nasehat itu, atau apakah memang hati kita sudah terkunci rapat dan tak lagi bisa dibuka?pertanyaan-pertanyaan ini kembali pada diri masing-masing.

Aku punya sedikit cerita bagaimana menjadi orang besar. Semua tokoh–tokoh terbesar dunia ternyata para penyerap ilmu pengetahuan besar. Mereka mendapatkan pengetahuan besarnya, terutama dari membaca. Mereka adalah kutu buku kelas berat.

Maha besar Alloh ketika Beliau menurunkan ayat suci al-qur’an pertama kali yang berbunyi”Iqra’” yang artinya”bacalah”. Sebuah ayat yang mempunyai banyak sekali kandungan isinya. Karena dengan membaca kita tak hanya mengetahui satu masalah saja, akan tetapi jauh lebih komplek daripada itu.

Bahkan orang bijak mengatakan”Dengan membaca kita bisa taklukan dunia”. Sebab pengaruh dari membaca sangatlah besar. Harun Al-Rasyid, Khalifah Islam yang cukup gemilang masanya, dia adalah penggemar buku-bukunya Plato dan Aristoteles. Napoleon juga termasuk pembaca kelas berat. Dia membaca tentang Alexander the Great, Julius Caesar (juga "Perang Galia"), Plutarch, Homer, Plato, Rousseau, berbagai buku tentang kemiliteran, sejarah, pemerintahan, geografi, bahkan membaca Al-Qur’an semasa ekspedisinya ke Mesir.

Isaac Newton sejak muda membaca karya para tokoh–tokoh besar masa lalu, "The Giants", Euclid, Kopernicus, Galileo, Descartes dan banyak lainnya.

Hitler adalah pembaca buku–buku militer, buku sejarah kebesaran Jerman, Bismarck, filosofi Nietzsche, dan banyak lainnya. Saat menganggur dipakainya untuk menghabisi buku–buku di perpustakaan di Wina, Austria. Bahkan Einsten seorang jenius abad 20 yang namanya pasti kita hafal dan kita sering mendengar berkali-kali sempat membolos sekolah karena ingin membaca lebih banyak. Akan tetapi kita?

John F. Kennedy(presiden AS ke-35 yang terbunuh pada 22/11/1963)tidak hanya pembaca buku. Ia menulis buku "Profiles in Courage" yang meraih penghargaan tertinggi Pulitzer tahun 1957(penghargaan dalam kategori jurnalistik, awal pertama di adakan pada tahun 1917 silam). Bill Gates (pendiri Microsoft, orang terkaya di dunia) menghabisi seluruh buku komputer di perpustakaan sekolahnya hanya dalam waktu beberapa minggu.

Andai waktu yang masih tersisa disini kita gunakan dengan benar, kita tak kan merasa canggung, kita tak kan merasa takut, justru kita akan merasa sangat siap untuk mengahadapi problematika yang akan kita jemput nantinya.

Coba sesekali kita renungi bersama akan arti hidup. Hidup singkat di dunia dan kekal di alam akhirat. Tak terbayang jikalau kita nantinya akan gagal di dua alam yang pasti kita tempati sekarang dan yang akan datang.

Membaca sebenarnya merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Coba saja ketika kita membaca sebuah novel yang tersusun dengan kalimat-kalimat yang indah. Kita tak kan berhenti untuk membaca. Apalagi membaca komen-komen yang berada dalam wall dinding kita di FB(Facebook), pasti kita senang untuk membacanya. Celotehan teman-teman yang lucu dan bikin orang tertawa.

Setelah berbagai contoh penulis sampaikan, tinggal bagaimana respon dari para pendengar dan pembaca. Kalau kita memang menginginkan suatu renaisance dalam kehidupan kita, perbanyaklah membaca. Toh kita sudah banyak membeli buku-buku, bahkan kalau dikalkulasi bisa mencapai puluhan ratus ribu, puluhan ratus pond, dan puluhan ratus dolar.

Ingat sobat, kesempatan hanya hari ini, kemarin sudah sirna tak bisa kita kembalaikan lagi. Bahkan pepatah China mengatakan”An inch of time is worth an inch of gold, but it is hard to buy one inch of time with one inch of gold”. Penulis berharap apa yang telah disampaikan bisa menjadi peringatan bagi penulis, pendengar dan pembaca.

Kairo, 12 November 2009
Di waktu senja, 16.12 CLT.


baca lagi......

Senin, 31 Agustus 2009

Ramadhan, Syahru Mubarok

Ramadhan, Syahru Mubarok


Sudah lama jemari-jemariku tak menuliskan kata-kata sekalipun. Ku ingin melakukannya kembali selagi aku bisa untuk menggerakanya. Sebab kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi mengenai esok hari, hanya Allohlah yang tahu semua itu. Seperti yang aku rasakan 3 hari kemarin. Mulai tanggal 28 Agustus 2009, aku merasakan flu yang lumayan ringan, akan tetapi tanggal 29-31 tubuhku mulai lemas dan panas. Inilah yang aku rasakan, dengan kondisi seperti ini, aku tak bisa melakukan apa-apa. Padahal banyak waktu yang bisa aku lakukan jikalau tubuhku ini fit.


Ini adalah yang kedua kalinya aku berpuasa di bumi para nabi. Seperti tradisi-tradisi yang telah berjalan di Kairo ini, setiap menjelang buka puasa banyak masjid-masjid yang membuka buka bersama bareng(istilah yang sering kita sebut dengan maidahan). Makanan yang dihidangkanpun semuanya ala Mesir, untung karena sudah 2 tahun di Mesir, sudah bisa menyesuaikan diri dengan makanan-makanan tersebut. Untuk orang-orang serumahku, sering mereka mengambil jatah buka puasa untuk dibawa pulang, setelah itu diracik kembali di rumah(kadang-kadang lom matang banget masakannya).

Masih banyak tradisi-tradisi Mesir yang lain ketika bulan ramadhan datang, semisal banyak rumah-rumah yang dikasih sederetan lampu kecil-kecil indah yang memanjang yang menggambarkan kebahagiaan mereka ketika bulan suci ramadhan datang. Untuk sholat tarawih, kebanyakan masjid-masjid sini hanya melakukan 8 rakaat saja, bacaan yang dibaca pun berbeda-beda, ada yang setiap tarawih satu juz dibaca, ada yang hanya setengah juz, ada juga yang selain itu(kebanyakan anak-anak semisal aku ni milihnya yang paling cepet, jadi sering milih masjid yang solatnya paling cepet, jangan ditiru yah,hehe).

Sebenarnya di bulan ramadhan ini penuh dengan keberkahan, bagaimana tidak coba, setiap melakukan satu kebajikan, dibalas oleh Alloh dengan berlipat-lipat. Pokoknya asyiklah kalau mau sering beramal yang baik di bulan yang barokah ini. Tapi yang perlu diingat bagi kita-kita dalam bulan ramadhan adalah kata”ikhlas”. Coba kita ingat-ingat ucapan Alloh dalam hadist qudsi”Sesungguhnya semua amal yang dilakukan oleh Bani Adam adalah untuk mereka sendiri, akan tetapi puasa adalah untuk diri-Ku, dan Aku yang akan memberikan balasan sesuai dengan keinginan-Ku”. Makanya ketika kita berpuasa, kita kudu ikhlas selalu.

Semoga aku bisa cepet fit, biar bisa melakukan banyak amal(mudah-mudahan yang dimaksud amal baik,he). Tak asyik kalau cuman penulis yang menginginkan dirinya untuk sehat selalu. Tapi penulispun mendoakan, mudah-mudahan yang mau membaca tulisanku ini juga tergolong orang yang beruntung(bisa menggondol banyak pahala)di bulan romadhan ini.

Cairo, 1 Sept 2009

baca lagi......

Selasa, 04 Agustus 2009

Suasana Malam di Nil

Suasana Malam di Nil


Malam 28 Juli 2009, aku keluar di malam hari dengan salah satu temenku Sa’adah pada jam setengah dua malam. Karena malam itu adalah malam terakhir aku di Dimyat, aku paksain tuk ikut ajakan Sa’adah. Padahal aku sudah malas-malasan tuk berangkat malam itu, sebab mataku dah mulai mengantuk. Tapi aku merasa ngga enak untuk menolak ajakanya. Sebab Sa’adah ini mungkin simpati dengan keadaanku yang sering menyendiri(iya sih, tapi aku enjoy aja ko, memang sifatku kayak githu,he..).


Aku berjalan berdua dengan Sa’adah dengan suasana malam yang dihiasi lampu-lampu yang indah. Tidak seperti di Indonesia, malam di Dimyat(salah satu tempat rekreasi di Kairo) itu justru rame banget, apalagi musim-musim panas gini. Bahkan bisa jadi tidak tidur semalaman karena emang susah tidur. Aku telusuri jalan tengah yang tidak dilalui oleh lalu lalang mobil, aku mulai bercakap mulai dari suasana malam hari di Dimyat, dan lain sebagainya.

Waktu jalan-jalanpun sebenarnya aku pengin bentar saja, terus aku bilang ke Sa’adah” gimana nih, mau muter balik po?”, jawabnya “nanti aja deh, mendingan ke Nil dulu yuk”. Aku dan dia terus berjalan yang akhirnya sampai di jalan Mustasyfa markazi, aku ambil jalan kanan dan terus berjalan kearah sana. Tadinya aku kira mau lihat sebuah rumah sakit di jalan mustasyfa itu, ternyata ngga kebayang euy, justru kita melihat keramaian disana. Pasar malam mulai dari penjual pakaian, makanan, eskrim dan juga kapal-kapal yang ramai dengan para penumpang. Sebelum naik kapal yang diramaikan dengan dance, kita beli eskrim yang harganya 2 Le, enak banget.

Kita masuk kapal yang lumayan besar, sambil nunggu kapal berangkat, para penumpang yang ada dihibur dengan brigden dan juga dancing dengan musik-musik mesir yang khas yang bikin aku tersenyum sambil menikmati alunan lagu dan dancing tadi(sumpeh, musik-musik mesir itu luchu lo..). Akhirnya selang waktu kedepan, kapalpun berjalan menuju ke arah ra’sul bar yang sore tadi aku sempat pergi kesana dan poto-poto disana. Tidak seperti suasana Nil di Tahrir, sungai Nil di Dimyat jauh lebih asyik dan lebih ramai, mungkin karena ada pasar malam tadi.

Mengenai harga tiket kapal, tidak terlalu membikin kantong kempis(murah ko, cuman 1 pound). Setelah naik kapal, kita jalan-jalan sebentar sambil lihat-lihat suasana sekitar yang ramai dengan pengunjung. Habis itu, kita pulang dengan hati agak berat, senadainya dari kemarin kita tahu ada sungai Nil yang indah ini, pasti dari kemarin kita udah main kesini(mungkin kayak githu deh ceritanya).

Dimyat, 2009, 28 July

baca lagi......

Kamis, 30 Juli 2009

Suara Realita Kawan

Suara Realita Kawan



Pagi ini 28 Juli 2009, ku berjalan menyusuri salah satu pantai yang punya kesejukan tersendiri, kesejukan yang menyerupai alam pertiwi Indonesia. Aku coba mengingat bagaimana aku dulu bermain bersama kawan di pantai pertiwi, seolah sama seperti yang aku alami sekarang.



Setelah sampai kesana, aku lihat-lihat sekitar pantai, ternyata teman-temanku pergi ngga tahu kemana, tak ada satupun yang aku lihat. Aku coba berdiri sambil menekukan tangan kedadaku sambil menatap ke ujung laut yang ada di depanku ini, aku nikmati karunia yang Alloh kasih ma orang-orang di Dimyat ini.

Baru beberapa menit, aku palingkan tatapanku ini ke sekitar pantai, siapa tahu ada yang aku kenal. Akhirnya kulihat juga mereka. Terus aku kesana sambil duduk bareng, foto-foto bareng ala orang”keren”(ihiks..lagi so keren sih). Karena panasnya suasana pantai, akupun cari tempat untuk berteduh. Sungguh sejuk banget euy, angin pantai yang sepoi-sepoi menyentuh kulit lembutku ini, terasa kesegaran yang luar biasa(suegere rek..kata orang Jawa Timur).

Sambil duduk dibawah kayu yang meneduhkanku dari panas matahari, dan juga pandanganku ke arah pantai yang kebanyakan orang-orang mesir menikmati air laut Dimyat, temenku si Arman(nama samaran), mendekatiku dan ikut berteduh di bundaran kayu yang aku duduki disana. Aku coba membuka pembicaraan ma Arman tentang suasana pantai di Dimyat ini. Selain itu juga aku iseng tanya tentang hasil ujian, ternyata dia dah tahu hasilnya(enak yah, kalau aku lom tahu euy, lom turun nilainya, mudah-mudahan lulus ya rabb).

Sambil menikmati kesejukan di pantai Dimyat, akupun ngobrol seputar remaja, aku mulai dengan kata-kata yang tak asing lagi, “Man dah punya pacar lom?”. Arman bilang gini, “durung iks, padahal aku wis melu organisasi nang ngendi-ngendi tapi ijek ra ndue”. Aku hanya bisa tertawa menyindir(maklum aku dah punya cewe euy). Terus si Arman menceritakan tentang cewe yang suka ma dia di Indonesia. Dia adalah anak kyai, singkat cerita ketika ujian semester dua tahun 2009 tinggal 3 mata kuliah, si Arman nelpon si Dia tuk kasih semangat, tak taunya ketika lagi enak-enak ngobrol bapaknya datang, terus cewenya nyuruh Arman tuk ngomong hubunganya ma bapak si cewe. Bapaknya bilang ma si Arman katanya suruh ngomong ma ibunya saja. Sebelum nelpon ibu si cewe, Arman nelpon ke orang tuanya dulu tuk minta saran, orang tuanya bilang” ra usah Man, mengko malah koe kisinan”. Akhirnya semenjak itu, si Arman tidak lagi kontak ma dia.

Lalu aku ngajak Arman tuk pulang ke kos-kosan yang kita kontrak sekitar pantai itu. Di perjalanan aku bilang ma Arman kalau aku bersyukur, aku dapat beasiswa dari BZ(Baitu Zakat) dari Kuwait. Dimana dengan beasiswa itu, aku sangat-sangat terbantu dalam urusan biaya. Armanpun kemudian cerita kalau di Bu’us(asrama mahasiswa orang-orang asing di Kairo) hanya dapat beasiswa yang sangat mepet kalau di hitung-hitung buat biaya perbulan yaitu 92 Le. Bahkan kalau musim ramadhan tiba, dia bersama teman-teman yang lain harus survai dulu ke masjid-masjid yang memberikan bantuan uang. Dia ngasih tahu ke aku kalau ramadhan kemarin dapat 700 Le.

Dari tulisan ini penulis hanya ingin mengingatkan kalau kita sebagai manusia harus bisa pandai bersyukur, tidak hanya Arman yang kesusahan dalam hal biaya hidup tinggal di Kairo, tapi masih banyak saudara-saudara kita yang lebih sulit dalam hal biaya hidupnya. Tak boleh kita hanya bersenang-senang menikmati kiriman dari orang tua atau sejenis dari itu, tapi bagaimana kita gunakan uang pemberian ortu kita dengan sebaik-sebaiknya, mumpung masih dikasih ma ortu, kalau sudah disuruh nyari sendiri coba, pasti akan shock bagi orang yang pertama kali melakukanya. So, teruslah berjuang, dan gunakan kesempatan yang cemerlang ini sebaik-baiknya.
July 2009, 28

baca lagi......

Ra’sul Bar on Memory

Ra’sul Bar on Memory


Sore 28 Juli 2009 aku bersama 2 teman Ikamaru(Ikatan Mahasiswa Raudhatul Ulum Pati) melaju ke ra’sul bar. Ra’sul bar adalah pertemuan antara sungai Nil(sungai terpanjang di dunia yang panjangnya mencapai 6695 km) dengan laut tengah di Dimyat. Letak antara kos-kosan yang kita sewa dan ra’sul bar tidak terlalu jauh, kalau naik angkot cuman bayar 50 qirs( setengah pound mesir).


Walau tempatnya sederhana tapi lumayan indah. Inilah kehebatan Mesir bisa membikin tanah-tanah menjadi tempat-tempat rekreasi. Seandainya pemerintah Indonesia pintar membangun tanah-tanah dibikin tempat rekreasi, mungkin banyak income yang didapat. Coba saja kita lihat, di Indonesia banyak lho pertemuan antara sungai dan laut, tapi ngga dibikin tempat wisata.Menurutku mungkin karena anugerah Alloh yang berupa sungai Nil yang membuat ra’sul bar menjadi salah satu tempat rekreasi yang banyak dikunjungi oleh turis lokal maupun interlokal. Disamping mempunyai title the long river in the world, tapi juga sejarah yang sungai Nil perankan sungguh membuat orang mau untuk melihatnya.

Selain pemandangan yang indah, di Ra’sul Barpun ada bioskopnya juga lho. Namanya Al-Lessan Dimyat Cinema, Unik kan? Aku sempat foto-foto juga disana, ya karena memang tujuan utama piknikku cuman ambil gambar dan cari refresh aja. Tapi yang aku sayangkan aku ngga punya foto sendiri, So harus ngikut temen yang lain(ihiks..jadi sedih).

baca lagi......

The Second Tour of Memory(Syati’ 51)

The Second Tour of Memory(Syati’ 51)


Tanggal 27 Juli 2009 inilah kedua kalinya aku berekreasi setelah pertama kali tour bareng Grazeev ke Gaza, lihat pyramid dan spinx yang mungkin dulu hanya sebuah sejarah yang aku baca, tapi sekarang aku bisa menyaksikannya langsung. Sekarang giliran tour bareng anak-anak Ikamaru Pati ke tujuan pertama Dimyat beach. Pantai Dimyat ini hampir sama kayak pantai-pantai di Indonesia seperti pantai ayah di Kebumen misalnya, bedanya disini banyak tempat-tempat untuk para pengunjung sedangkan di Indonesia kebanyakan para penjual makanan walau tidak menutup realita pengunjungpun banyak.


Perjalanan kali ini banyak diiringi dengan indahnya pohon kurma yang terlihat bagus, ada perkebunan mangga dan juga tambak-tambak ikan dipinggiran jalan, sampai temen duduk sebelahku bilang “kayak di Rembang suasananya”. Perjalanan yang melelahkan dan juga bisa dijadikan memory untuk masa depan.

Tak kusangka pagi ini aku bangun jam setengah delapan pagi yang bikin aku gugup dan tergesa, bagaimana tidak coba? perjalanan tour bareng anak-anak Ikamaru yang akan berangkat jam 9 pagi, sedangkan rumahku dengan tempat kumpul untuk berangkat agak jauh dan butuh waktu sekitar 35 menit. Aku keluar dari rumah jam delapan kurang sepuluh. Bus nomer 69 arah ke kota Qotamiyah tempat tujuanku itu ternyata ngga melihatkan roda dan kacanya. Dengan kondisi badan yang tidak begitu fit(maklum baru bangun langsung siap-siap tuk berangkat) campur ngejar waktu, akhirnya 30 menit kedepan baru muncul. Cepat aku masuk mobil terus take off langsung ke tempat tujuan. Aku tidak begitu tahu tempat yang aku tuju itu, lupa sih, baru satu kali aku kesana. Tahu-tahu salah turun, padahal tempat tujuan masih jauh. Aku langsung telpon Siti Sa’adah, akhirnya diapun menjemputku( asyik ada yang jemput).

Waktu yang telah terencanakan mau berangkat jam 9 pagi, ternyata baru bisa take off jam 10.30(capek deh, kalau tahu kayak gini, aku mending chat dulu ma yang di Indo, he..). Bus berangkat jam 10.30 dengan tujuan Dimyat beach yang butuh waktu 4 jam. Tapi sebelum bersenang-senang di pantai, kita istirahat dulu di rumah yang telah kita sewa sampai nunggu waktu asar. Setelah kita solat di masjid dekat rumah, terus langsung ke beach deh. Jadi teringat suasana pantai di Indonesia nih(ihiks...pengin pulang).

Sore 27 Juli 2009, kita habiskan bareng di Dimyat beach dengan bermain bola, berenang(tapi aku ngga renang, bukanya aku ngga bisa berenang, tapi aku emang ngga bawa celana untuk berenang) dan foto-foto. Sampai waktu menunjukan jam 19.30 kita baru pulang ke rumah. Waktu isapun datang, panitia seksi acara mengadakan kumpul bareng, untuk senang bersama-sama. Sumpah, malam yang bisa dijadikan kenangan. Dari teman-teman seksi acara mengadakan lomba kecil-kecilan dan doorprize, tapi ternyata kegiatan yang sederhana kayak githu cukup attractive pendudukan Dimyat. Mereka pada nonton dan ikut bersorak(emang sih, hatiku bilang “ndeso-ndeso”, gitu aja diheranin). Ada permainan yang sederhana tapi buatku itu sangat menarik yaitu lomba memasukan pensil ke dalam botol minuman, tapi dengan kerja perkelompok empat orang(bedakan? Biasanyakan cuman satu orang aja). Ternyata hal seperti itu membuat sebagian penduduk yang tinggal disamping rumah kos-kosan kita pada tertarik.

27 July 2009
Dimyat on memory

baca lagi......

Sabtu, 11 Juli 2009

The Memory of July

The Memory of July


Liburan sudah mulai tiba, tak terasa setelah sebulan kemarin tersibukan oleh ujian kuliah yang tak tahu apa hasilnya nanti, kini saatnya mulai terbebas dengan diktat kuliah yang bikin orang tidur kurang. Di kepalapun sudah mulai terancang tempat panorama yang sungguh menakjubkan kalau dilihat, terasa ingin sekali cepat-cepat pergi untuk melihatnya. Tapi semuanya itu hanya rancangan, hanya sebuah keinginan, tetap yang menentukan cuman Alloh. Rencanaku untuk pergi berlibur ke Alexandria yang katanya sangat bagus itu ternyata hanya omongan dan keinginan saja.


Tanggal 24 Juni 2009 inilah pijakan pertama aku tersibukan oleh agenda-agenda baik itu dari Informatika yang katanya mau mengadakan tour ke Alexandria, kebetulan aku yang diminta untuk mengurus agenda ini. Selanjutnya dapat tawaran untuk membantu panitia ORMABA PPMI yang sudah terlaksana pada 6-7 Juli kemarin. Kemudian diminta oleh seksi kaderisasi KSW untuk menjadi seksi acara di LPEPM anak-anak Jateng yang sudah terlaksana pada 9 Juli kemarin, kemudian tanggal 10 diminta menjadi MC di acara Up greading Informatika untuk kru-kru baru 2009-2010. Ketiga kepanitian itu sungguh memaksaku untuk menguras banyak tenaga, sampai-sampai badan sudah mulai pegal-pegal, untung ada Ummy yang membuatku semangat selalu.

Tapi, belum selesai sampai disini, aku masih punya tugas mengurusi OPABA NU, dimana koordinator seksi acara dipegang olehku. Sebenarnya capek campur kesel kalau ngomong tentang masalah ini, tapi tak apalah, gimana ngga cape, kepanitiaan aja kurang tenaga, uangpun mepet, kerjapun tidak profesional, banyak tumpang tindih kerjaan dalam kepanitiaan, tapi bagaimanapun ini semua akan kujadikan pelajaran, karena dengan ini aku ditantang untuk lebih bisa mandiri dan tangkas dalam bergerak.

Waktu masih berjalan begitu semangatnya, matahari dan bulanpun tak bosan-bosanya menerangi alam raya, disinilah aku merasa tak cukup hanya sampai disini. Perjalanan sang pengembara masih lama, tantangan masih siap siaga didepan. Ambil kekurangan masa lalu dan pelajari untuk bisa menemukan rumus handal ketika nantinya menemukan hal-hal yang telah kita temui sebelumnya. Wake Up guys!!! Don’t be weakness.

July 2009, 11
Cairo


baca lagi......