Minggu, 17 April 2011

Haruskah Aku Menyalahkan Diriku Sendiri

Haruskah Aku Menyalahkan Diriku Sendiri

Terkadang kita tak paham dengan diri kita sendiri. Hati mengatakan untuk selalu bertindak, akan tetapi diri tak mau melaksanakanya. Aku menyadari bahwa keberadaanku disini tinggal menghitung bulan saja, Bi Iznillah.

Mesir adalah Negara yang sekarang aku tempati. Negara dimana aku menuntut ilmu dan juga menambahkan pengalaman hidup. Sebuah Negara yang dikenal dengan negara seribu menara dan pusat peradaban Islam terbesar.

Sejak awal diriku melangkahkan kaki di negara ini, alur perjalanan hidup yang berbeda-beda coraknya sedikit membuatku mengerti akan kehidupan. Kehidupan yang penuh dengan ujian dan perjuangan. Dan kesabaranpun menjadi bekal utama yang harus dipegang.



Canda tawa, tangisan dan kesedihan yang aku rasakan disini telah memberikan warna dalam alur perjalananku. Akan tetapi hal-hal tadi tidak seimbang dengan apa yang aku dapatkan sampai sekarang. Dimana aku menginginkan suatu hal yang lebih, tapi yang aku rasakan tidak sesuai dengan keinginanku itu.

Haruskah aku menyalahkan diriku sendiri. Haruskah aku mencaci maki diriku sendiri. Aku pikir untuk sesekali boleh, asal jangan terus menerus, sebab diri inilah yang bisa mengantarkan aku untuk menapaki perjalanan hidup yang sangat keras ini.

Indonesia-Kairo mungkin terlalu jauh jika di ukur dengan ukuran kilo meter. Akan tetapi sangat cepat kalau di tempuh dengan transportasi, terutama transportasi udara. Aku ingat ketika aku berangkat pertama kali ke Kairo. Waktu itu aku berangkat dari Solo, naik pesawat menuju jakarta, yang kemudian bertolak ke kairo. Aku sadar, bahwa apa yang sedang aku lakukan itu merupakan suatu hal yang besar. Menuntut ilmu di Kota yang sangat jauh tempatnya, tidak hanya jauh dari negara kita Indonesia akan tetapi juga jauh dengan keluarga.

Maka boleh dikata, aku harus betul-betul memanfaatkan tempat ini dengan sebaik-baiknya. Aku terkadang bingung, aku suka dengan Mesir, suka dari bagaimana tradisi belajarnya. Suka bagaimana peninggalan-peninggalan sejarah bisa aku nikmati sampai sekarang. Dan suka dengan Al-Azharnya yang mengajarkan tentang wasatiyah-nya. Tapi maafkanlah diri ini kalau hati masih tetap condong dengan tanah air tercinta.

Mudah-mudahan dengan izin Allah, apa yang bergejolak dalam hati dan fikiran ini bisa dipecahkan dikit demi sedikit. Aku teringat dengan pesan Bapak ku untuk selalu fokus dalam melaksanakan suatu tuntutan. Dan juga Ibuku yang selalu mengatakan Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh(kerja keras) pasti akan mendapatkan hasilnya.

لاحول و لا قوة الا با الله

Kairo, 17 April 2011.

baca lagi......

Jumat, 24 September 2010

Kesempatan Muda ini tak Akan Kembali Lagi

Kesempatan Muda ini tak Akan Kembali Lagi

Kata orang masa muda itu adalah masa Ke-Emasan, dimana kekuatan yang ada dalam diri kita masih terkumpul banyak. Apalagi kalau berbincang masalah kesempatan untuk menikmati kebahagian hidup, memang tempatnya pada masa ini.

Banyak sekali corak hidup dalam fase ini, ada yang sukanya ngeband, ada yang sukanya jalan-jalan, ada yang sukanya main game, dan ada juga yang suka belajar. Dalam tulisan ini, penulis hanya ingin intropeksi diri. Memang, penulis akui bahwa fase muda ini sungguh sangat menggiurkan. Apalagi kalau hanya di isi dengan refresing saja. Kita terkadang lupa akan tugas yang kita emban pada fase ini. Apa itu?


Kita terkadang lupa akan tugas besar kita, tidak hanya untuk kebaikan kita kedepanya, akan tetapi juga tanggung jawab kita terhadap orang tua kita. Apakah mereka hanya kita anggap sebagai orang biasa-biasa aja? Apakah mereka kita anggap tidak ada hubunganya dengan kehidupan kita mendatang?

Penulis terkadang diceritai menyoal kehidupan orang-orang yang sudah berkeluarga. Nikah dini yang kelihatan menyenangkan akan tetapi berbuah pahit. Terkadang anak-anak remaja hanya ingin kepuasan nafsu belaka. Tidak mau tau apa resiko yang mereka hadapi di kehidupan esok. Makanya terkadang banyak sekali anak muda yang sudah menikah akan tetapi tidak sanggup untuk mengurus anak dan istrinya. Apakah mereka pikir orang tua mereka itu tidak memikirnya? Sangat haru sekali ketika orang tua memikirkan anaknya yang menikah tanpa kesiapan yang kuat.

Tidak hanya nikah dini, tapi juga menyangkut remaja yang sukanya refresing. Kadang kita menyadari bahwa waktu yang kita gunakan untuk hiburan itu sangat banyak tinimbang apa yang kita gunakan untuk membekali kehidupan kita dimasa mendatang. Akan tetapi kita seolah-olah tidak mau tau, cuek, acuh dengan apa yang kita lakukan ini.

Ingat sobat, waktu muda tak akan kembali lagi. Kita punya banyak bekal yang perlu dipersiapkan kedepanya. Penulis pikir, dengan tulisan ini, pembaca bisa menyimpulkan, apa yang terbaik untuk membekali diri. Apa bekal yang harus kita siapkan untuk diri sendiri, untuk orang tua kita dan untuk keluarga kita nanti. Dan yang paling utama tentunya tanggung jawab kita ke Sang Pencipta.

baca lagi......

Selasa, 10 Agustus 2010

Aku Ingin Seperti Mereka

Aku Ingin Seperti Mereka

Ku coba berkata dalam hati betapa senangnya dia, negara Eropa itu sudah pernah dia datangi. Kapan orang sepertiku bisa sepertinya, mengunjungi negara-negara Eropa yang katanya sangat indah dan bagus.

Aku sangat senang ketika aku menceritakan pengalamanya ke orang lain. Akan tetapi aku merasa malu katika aku ditanya, kenapa bukan tentangku yang aku ceritakan kepada yang lain. Tentu dengan mudah ditebak, sebab aku tidak punya pengalaman yang seperti itu.

Tapi apakah itu menjadikanku menjadi merasa down? At least, dengan menceritakan pengalamanya kepada orang lain, aku menjadi terbawa dan nantinya bisa menirunya. Pergi ke Eropa dan berkunjung ke tempat-tempat impian banyak orang, Prancis, Swiss, Jerman, Inggris, Hungaria, Slovakia dan masih ada beberapa lagi.


Akan kucoba untuk bergerak jauh lebih maju dari sebelumnya. Ingat, sesuatu itu dimulai dari awal, tidak semerta-merta datang dengan langsung “super wah”. Every artist was first an amateur, suatu yang hebat pasti dimulai dari awal. Dan sesuatu yang tidak pernah dicoba, tentunya selamanya tidak akan pernah tau akan hasilnya, If I never try, I’ll never know.
Di kehidupan yang tidak mengenal malas-malasan dan santai-santai. Tentunya harus disikapi juga dengan hal-hal yang menuju ke arah sana. Today is not a good day to give up. Selalu menambah pengalaman diri dan selalu berbekal ilmu, itu yang perlu dijalani. Tapi juga tidak lupa dengan Penguasa Alam, sebab Dialah yang mengatur segalanya. Hasbunalloh wa Ni’mal wakil.

Kairo, 10 Agustus 2010

baca lagi......

Kamis, 17 Juni 2010

Dunia Mimpiku

Dunia Mimpiku

Kondisi sekarang sudah sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Walau di zaman sekarang terlihat jauh lebih baik dimana bangunan-bangunan bercorak moderen, peralatan yang sudah mulai canggih, tapi aku masih belum bisa memposisikan diri dengan mereka.

Mesir, salah satu negara di timur tengah yang dulu aku idam-idamkan sejak masa-masa Aliyah, akhirnya bisa aku singgahi sekarang. Universitas Islam yang konon sudah dibangun sejak zamannya Amr bin Ash, dan sekarang masih ada dan masih tegak kokoh, Al-azhar As-Syarif, aku juga sudah ikut menikmati bangku perkuliahanya.


Ra’sul Bar, tempat bertemunya sungai Nil dan Laut, ataupun pantai Ad-dimyat yang berada disampingnya, dan juga Al-ahrom(Pyramid) yang berjumlah 3 dan 1 Spinx yang masih menjadi tujuan wisata di Mesir, akupun sudah berkunjung kesana.

Beratus-ratus buku yang tersebar di berbagai toko-toko buku, mulai dari Dar-alsalam, Dar at-Tauzi’, Dar al-Hadist, Dar Ibnu Hazm, Dar- Assyuruk, Dar at-Turast, dan masih banyak lagi. Bahkan ketika ada International Book Fair, berjubel buku mulai dari buku-buku agama, bisnis, kedokteran, hukum ada semuanya dari buku lokal ataupun interlokal dan juga lintas negara. Dan akupun sudah ikut meramaikanya.

Tapi semuanya itu belum cukup aku rasakan nikmatnya, bahkan aromanya. Karena aku belum mampu mengarahkan gerak gerikku kesana. Aku masih tertidur dalam dunia mimpiku. Seolah terhipnotis, bahkan lebih jauh dari itu. Sebab “aku tau, tapi aku ngga pernah mau tau”.

Keberadaanku yang tinggal setahun lagi, membuatku banyak plaining. Apa yang semestinya akan ku buat selama satu tahun yang aku jalani nanti. Semuanya itu tidak akan manis sesuai harapan, tapi dengan nikmat-Nya, akan ku dapatkan apa yang ku inginginkan.

Tidak kah kalian ingin menjadi salah satu orang-orang sukses di dunia? Tidak kah kalian berpikir mendapat kehidupan yang bisa membuat kita bahagia kedepanya? Caio.....Alam masih menunggu kita, menanti kita dan menyaksikan kita dalam kesuksesan.

Kairo, 16 Juni 2010

baca lagi......

Minggu, 09 Mei 2010

Kairoku Sayang, Kairoku Malang


Dua hari terlewati dengan kondisi yang sama, malam tak bisa tidur padahal badan sudah mulai lemas tak ada tenaga.

Emang dua hari ini suhu di negeri para Nabi ini sangatlah tinggi, sampai 36 derajat(bayangin bro...). Untung ada kulkas yang bisa digunain untuk membuat butiran-butiran es, walau hanya kulkas bekas, tapi udah lumayanlah. At least bisa minum air dingin sepuasnya.


Aku tak habis pikir, lontaran kata keluhan selalu aku keluarkan. “Wedan” ko bisa gini ya Mesir. Padahal semua jendela sudah di buka semua, celah yang kira-kira perlu di buka, juga sudah dibuka. Sampai...bajupun sudah dibuka, tapi tetep, tak merubah kondisi menjadi nyaman di badan. Yang ada angin malam yang sangat panas dan mata yang ngga mau merem.

Sampai kapan yah suhu malam hari di Kairo ngga seperti ini, mana ujian udah dekat lagi.

Everything is gonna be Oke. Tantangan yang besar, hasilnyapun akan memuaskan. Robbena Yusahhelna ya Robb.

Kairo, 10 Mei 2010

baca lagi......

Sabtu, 27 Maret 2010

Ketika Cinta Mulai Terbagi


Ketika kita mengenal cinta, banyak penafsiran-penafsiran yang akan kita buat dengan sendiri. Ada yang bilang, ketika cinta ku dapat, dunia terasa milik berdua. Ada juga yang bilang, ketika cinta datang mendekat, waktu seolah cepat berlalu, malam akan terasa siang, dan siang akan terasa malam.


Sedangkan ketika aku ditanya tentang cinta, aku akan menjawab”Aku masih merasa asing dengan cinta”. Banyak yang belum kumengerti tentang cinta. Bahkan ketika orang mengatakan cinta itu indah, mungkin aku akan menjawab cinta itu menyakitkan. Why? Ketika cinta seseorang yang kucintai ternyata cintanya terbagi dengan yang lain.

Hatiku sedang dirundung pilu, sebab cinta yang kurasakan tak sebanding dengan hasil yang ku gapai. Tapi obsesi yang seperti itu mungkin hanyalah kemauan hawa nafsu yang sifatnya sementara. Hawa nafsu yang sering menipu manusia dari jalan yang di ridhoi-Nya.

Aku hanyalah insan yang penuh kekurangan. Kekurangan akan cinta, ilmu, dan juga ma’rifat kepada Dzat Pemilik Cinta, Alloh swt. Mungkin ketika syair arab mengeluh tentang ejekan dari para penyair”Apa yang kau inginkan dariku hai para pujangga, padahal Aku sudah cukup makan garam, umurku dah lewat 40 tahun”. Akupun sebenarnya ingin mengatakan”Hai orang-orang pemuja cinta, apa yang kau besar-besarkan tentang cinta, padahal umurmu dah lewat 20 tahun, akan tetapi kau belum tahu tentang hakikat cinta?”.

Disinilah Dzat Pemilik Cinta kita nantikan, sudikah Engkau memberi secercah sinar-Mu melalui celah-celah di sudut hatiku. Janganlah Engkau tutup rapat-rapat hati yang masih belum tahu tentang hakikat cinta.
Kairo, 27 maret 2010

baca lagi......

Sabtu, 02 Januari 2010

Perjuangan Menuju Kepuasan Diri

Perjuangan Menuju Kepuasan Diri

Kepuasan diri banyak dicari oleh banyak orang. Tak hanya itu, demi mendapatkan kepuasan mereka merelakan untuk membayar lebih dari biasanya. Inilah realita alam yang ada.


Coba kita korek lebih dalam apa itu kepuasaan?kepuasan adalah dimana kita bisa mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang kita inginkan dengan syarat bersyukur.
Dengan kepuasan yang di dapat, kita dapat merasakan betapa besar nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita sebagai insan yang haus akan kenikmatan dhohir maupun batin.

Bulan Januari adalah bulan yang penuh penafsiran dalam kehidupan mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Selain menandakan pergantian tahun, momen pembentukan semangat baru tapi juga awal perjuangan untuk menggapai mimpi. Dimana kita akan menghadapi ujian yang akan memberikan bekas dalam ranah kehidupan kita di Kairo. Mungkin kalau kita sangkutkan dengan teorinya McClelland bisa tergolong dalam kebutuhan berprestasi(Needs of Achievment). Sebab dengan prestasi yang baik, akan mengantarkan empunya ke arah mimpi yang dia mimpikan itu.

Dari sinilah perjuangan kita mulai di uji. Kalau perjuangan yang kita keluarkan besar, kepuasan yang kita peroleh akan besar pula, begitu juga sebaliknya. Perjuangan itu bisa bersumber dari semangat yang telah kita kerahkan, waktu kita yang seakan terkekang demi mengumpulkan puing-puing ilmu kehidupan dan badan kita yang cukup terforsir demi mendapatkan apa yang terbaik.

Kata perjuangan tak semudah dengan apa yang kita katakan dan kita tulis, akan tetapi bagaimana kita bisa mengkondisikan diri untuk mampu berdiri tegak dalam menghadapi realita yang ada dengan tegar dan optimis dan berbekal modal perjuagan yang kita upayakan.

Kepuasan dan perjuangan mempunyai hubungan yang sangat erat. Karena keduanya mempunyai peran untuk membentuk kesuksesan pribadi diri yaitu keinginan untuk selalu eksis(existance needs). Keinginan untuk selalu eksis adalah naluri manusia, tak heran kalau banyak orang yang ingin eksis apapun jalan menuju kesana, pasti akan dilewati walau harus menguras keringat.

Begitu juga dengan kondisi kita yang notabene sebagai seorang akademisi. Sudah sepantasnya jalan-jalan menuju ke arah prestasi diri harus dilakukan. Ujian untuk termin pertama tinggal menghitung hari. Masikah kita terdiam tanpa gerak sama sekali. Masihkan kita menanti keajaiban yang tak tahu persis kapan datangnya? Padahal waktu dan kehidupan selalu berputar!!!

Ingat, pepatah mengatakan”siapa yang bersungguh-bersungguh, maka diapun akan mendapatkan apa yang dia impikan”. Kepuasan yang kita peroleh nanti tergantung dengan berapa besar perjuangan yang kita implementasikan.

Besar perjuanganmu adalah inti dari kepuasanmu nantinya. “You are the driver not a passenger in life”. Jangan mau menjadi budak kehidupan akan tetapi jadilah pengusa bagi diri sendiri untuk meraih kesuksesan dan kepuasan diri.


baca lagi......

Jumat, 13 November 2009

Gundahnya Jiwa

Gundahnya Jiwa


Hidup di dunia seakan terasa berat
Tak hanya waktu yang diperjuangkan
Tak hanya uang yang dipergunakan
Akan tetapi perasaanpun akan dikorbankan


Sering aku mengadu pada diriku sendiri
Dengan tetesan mata yang mengalir deras
Ku berucap apakah dengan seperti ini
Kehidupan harus dijalankan

Waktu berotasi begitu cepat
Detik silih berganti dengan detik
Jam pun mengikuti arusnya
Tapi aku masih merasa tak punya apa-apa

Bunyi musik flamenco-Jesse sedikit membuatku rilex
Setidaknya membuang rasa jenuhku dengan semua ini
Rasa jenuh yang menancap di kepalaku
Bak ditusuk-tusuk paku yang sangat tajam

Ketika ku duduk sendiri
Kucoba tuk renungi arti hidup
Hidup adalah perjuangan
Kalau ingin sesuatu yang bernilai, perjuanganpun siap dikorbankan

Aku pernah membaca biografi mereka
Biografi para tokoh pembesar dunia
Yang menstimulasiku dalam angan-angan
Angan-angan indah yang kuharap jadi kenyataan nanti

Terkadang aku letih
Capek tiada tara
Akan tetapi angan-angan itu mengingatkanku
Akan arti kebahagian

Bukankah pepatah itu sering terucap dimulut kita
Bersakit-sakit dahulu berenang-renang kemudian
Pada saatnya kita akan membuktikanya
Aku yakin, aku sangat yakin

Kairo,13 November 2009

baca lagi......

Kamis, 12 November 2009

The secret road to success

The secret road to success


Kita terkadang tertipu dengan kondisi di sekitar kita, kondisi yang membuat kita banyak melakukan sesuatu yang tak bernilai. Bukankah ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan kita sebagai insan yang pandai. Ketika ku terbayang dengan kehidupan dimasa mendatang, ku selalu tancapkan gambaran-gambaran terindah yang ingin kudapat. Bayangan indah yang ingin sekali kudapatkan dengan cepatnya.


Akan tetapi terkadang gambaran itu pudar disebabkan ketidaksiapanku untuk mendapatkanya. Salah satu faktor yang membuatku tidak siap adalah kemalasanku, sehingga akupun kurang berani dan kurang sekali bekal yang aku bawa.
Aku selalu berucap dalam diriku ini,”Waktu itu berjalan seiring berputarnya bumi, apakah kita hanya bisa terdiam dan menunggu nasib?”.

Kitapun sering mendengar nasehat-nasehat dari orang yang lebih tua dari kita, ketika mereka berucap”Hai anak muda, penuhilah dirimu dengan berbagai bekal tuk hari esok, sebab aku merasa menyesal dulu aku tak berbekal yang banyak”. Apakah nasehat yang meraka katakan ke kita tidak memberi manfaat, apakah memang kita tak bisa memahami akan substansi dari isi nasehat itu, atau apakah memang hati kita sudah terkunci rapat dan tak lagi bisa dibuka?pertanyaan-pertanyaan ini kembali pada diri masing-masing.

Aku punya sedikit cerita bagaimana menjadi orang besar. Semua tokoh–tokoh terbesar dunia ternyata para penyerap ilmu pengetahuan besar. Mereka mendapatkan pengetahuan besarnya, terutama dari membaca. Mereka adalah kutu buku kelas berat.

Maha besar Alloh ketika Beliau menurunkan ayat suci al-qur’an pertama kali yang berbunyi”Iqra’” yang artinya”bacalah”. Sebuah ayat yang mempunyai banyak sekali kandungan isinya. Karena dengan membaca kita tak hanya mengetahui satu masalah saja, akan tetapi jauh lebih komplek daripada itu.

Bahkan orang bijak mengatakan”Dengan membaca kita bisa taklukan dunia”. Sebab pengaruh dari membaca sangatlah besar. Harun Al-Rasyid, Khalifah Islam yang cukup gemilang masanya, dia adalah penggemar buku-bukunya Plato dan Aristoteles. Napoleon juga termasuk pembaca kelas berat. Dia membaca tentang Alexander the Great, Julius Caesar (juga "Perang Galia"), Plutarch, Homer, Plato, Rousseau, berbagai buku tentang kemiliteran, sejarah, pemerintahan, geografi, bahkan membaca Al-Qur’an semasa ekspedisinya ke Mesir.

Isaac Newton sejak muda membaca karya para tokoh–tokoh besar masa lalu, "The Giants", Euclid, Kopernicus, Galileo, Descartes dan banyak lainnya.

Hitler adalah pembaca buku–buku militer, buku sejarah kebesaran Jerman, Bismarck, filosofi Nietzsche, dan banyak lainnya. Saat menganggur dipakainya untuk menghabisi buku–buku di perpustakaan di Wina, Austria. Bahkan Einsten seorang jenius abad 20 yang namanya pasti kita hafal dan kita sering mendengar berkali-kali sempat membolos sekolah karena ingin membaca lebih banyak. Akan tetapi kita?

John F. Kennedy(presiden AS ke-35 yang terbunuh pada 22/11/1963)tidak hanya pembaca buku. Ia menulis buku "Profiles in Courage" yang meraih penghargaan tertinggi Pulitzer tahun 1957(penghargaan dalam kategori jurnalistik, awal pertama di adakan pada tahun 1917 silam). Bill Gates (pendiri Microsoft, orang terkaya di dunia) menghabisi seluruh buku komputer di perpustakaan sekolahnya hanya dalam waktu beberapa minggu.

Andai waktu yang masih tersisa disini kita gunakan dengan benar, kita tak kan merasa canggung, kita tak kan merasa takut, justru kita akan merasa sangat siap untuk mengahadapi problematika yang akan kita jemput nantinya.

Coba sesekali kita renungi bersama akan arti hidup. Hidup singkat di dunia dan kekal di alam akhirat. Tak terbayang jikalau kita nantinya akan gagal di dua alam yang pasti kita tempati sekarang dan yang akan datang.

Membaca sebenarnya merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Coba saja ketika kita membaca sebuah novel yang tersusun dengan kalimat-kalimat yang indah. Kita tak kan berhenti untuk membaca. Apalagi membaca komen-komen yang berada dalam wall dinding kita di FB(Facebook), pasti kita senang untuk membacanya. Celotehan teman-teman yang lucu dan bikin orang tertawa.

Setelah berbagai contoh penulis sampaikan, tinggal bagaimana respon dari para pendengar dan pembaca. Kalau kita memang menginginkan suatu renaisance dalam kehidupan kita, perbanyaklah membaca. Toh kita sudah banyak membeli buku-buku, bahkan kalau dikalkulasi bisa mencapai puluhan ratus ribu, puluhan ratus pond, dan puluhan ratus dolar.

Ingat sobat, kesempatan hanya hari ini, kemarin sudah sirna tak bisa kita kembalaikan lagi. Bahkan pepatah China mengatakan”An inch of time is worth an inch of gold, but it is hard to buy one inch of time with one inch of gold”. Penulis berharap apa yang telah disampaikan bisa menjadi peringatan bagi penulis, pendengar dan pembaca.

Kairo, 12 November 2009
Di waktu senja, 16.12 CLT.


baca lagi......

Senin, 31 Agustus 2009

Ramadhan, Syahru Mubarok

Ramadhan, Syahru Mubarok


Sudah lama jemari-jemariku tak menuliskan kata-kata sekalipun. Ku ingin melakukannya kembali selagi aku bisa untuk menggerakanya. Sebab kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi mengenai esok hari, hanya Allohlah yang tahu semua itu. Seperti yang aku rasakan 3 hari kemarin. Mulai tanggal 28 Agustus 2009, aku merasakan flu yang lumayan ringan, akan tetapi tanggal 29-31 tubuhku mulai lemas dan panas. Inilah yang aku rasakan, dengan kondisi seperti ini, aku tak bisa melakukan apa-apa. Padahal banyak waktu yang bisa aku lakukan jikalau tubuhku ini fit.


Ini adalah yang kedua kalinya aku berpuasa di bumi para nabi. Seperti tradisi-tradisi yang telah berjalan di Kairo ini, setiap menjelang buka puasa banyak masjid-masjid yang membuka buka bersama bareng(istilah yang sering kita sebut dengan maidahan). Makanan yang dihidangkanpun semuanya ala Mesir, untung karena sudah 2 tahun di Mesir, sudah bisa menyesuaikan diri dengan makanan-makanan tersebut. Untuk orang-orang serumahku, sering mereka mengambil jatah buka puasa untuk dibawa pulang, setelah itu diracik kembali di rumah(kadang-kadang lom matang banget masakannya).

Masih banyak tradisi-tradisi Mesir yang lain ketika bulan ramadhan datang, semisal banyak rumah-rumah yang dikasih sederetan lampu kecil-kecil indah yang memanjang yang menggambarkan kebahagiaan mereka ketika bulan suci ramadhan datang. Untuk sholat tarawih, kebanyakan masjid-masjid sini hanya melakukan 8 rakaat saja, bacaan yang dibaca pun berbeda-beda, ada yang setiap tarawih satu juz dibaca, ada yang hanya setengah juz, ada juga yang selain itu(kebanyakan anak-anak semisal aku ni milihnya yang paling cepet, jadi sering milih masjid yang solatnya paling cepet, jangan ditiru yah,hehe).

Sebenarnya di bulan ramadhan ini penuh dengan keberkahan, bagaimana tidak coba, setiap melakukan satu kebajikan, dibalas oleh Alloh dengan berlipat-lipat. Pokoknya asyiklah kalau mau sering beramal yang baik di bulan yang barokah ini. Tapi yang perlu diingat bagi kita-kita dalam bulan ramadhan adalah kata”ikhlas”. Coba kita ingat-ingat ucapan Alloh dalam hadist qudsi”Sesungguhnya semua amal yang dilakukan oleh Bani Adam adalah untuk mereka sendiri, akan tetapi puasa adalah untuk diri-Ku, dan Aku yang akan memberikan balasan sesuai dengan keinginan-Ku”. Makanya ketika kita berpuasa, kita kudu ikhlas selalu.

Semoga aku bisa cepet fit, biar bisa melakukan banyak amal(mudah-mudahan yang dimaksud amal baik,he). Tak asyik kalau cuman penulis yang menginginkan dirinya untuk sehat selalu. Tapi penulispun mendoakan, mudah-mudahan yang mau membaca tulisanku ini juga tergolong orang yang beruntung(bisa menggondol banyak pahala)di bulan romadhan ini.

Cairo, 1 Sept 2009

baca lagi......

Selasa, 04 Agustus 2009

Suasana Malam di Nil

Suasana Malam di Nil


Malam 28 Juli 2009, aku keluar di malam hari dengan salah satu temenku Sa’adah pada jam setengah dua malam. Karena malam itu adalah malam terakhir aku di Dimyat, aku paksain tuk ikut ajakan Sa’adah. Padahal aku sudah malas-malasan tuk berangkat malam itu, sebab mataku dah mulai mengantuk. Tapi aku merasa ngga enak untuk menolak ajakanya. Sebab Sa’adah ini mungkin simpati dengan keadaanku yang sering menyendiri(iya sih, tapi aku enjoy aja ko, memang sifatku kayak githu,he..).


Aku berjalan berdua dengan Sa’adah dengan suasana malam yang dihiasi lampu-lampu yang indah. Tidak seperti di Indonesia, malam di Dimyat(salah satu tempat rekreasi di Kairo) itu justru rame banget, apalagi musim-musim panas gini. Bahkan bisa jadi tidak tidur semalaman karena emang susah tidur. Aku telusuri jalan tengah yang tidak dilalui oleh lalu lalang mobil, aku mulai bercakap mulai dari suasana malam hari di Dimyat, dan lain sebagainya.

Waktu jalan-jalanpun sebenarnya aku pengin bentar saja, terus aku bilang ke Sa’adah” gimana nih, mau muter balik po?”, jawabnya “nanti aja deh, mendingan ke Nil dulu yuk”. Aku dan dia terus berjalan yang akhirnya sampai di jalan Mustasyfa markazi, aku ambil jalan kanan dan terus berjalan kearah sana. Tadinya aku kira mau lihat sebuah rumah sakit di jalan mustasyfa itu, ternyata ngga kebayang euy, justru kita melihat keramaian disana. Pasar malam mulai dari penjual pakaian, makanan, eskrim dan juga kapal-kapal yang ramai dengan para penumpang. Sebelum naik kapal yang diramaikan dengan dance, kita beli eskrim yang harganya 2 Le, enak banget.

Kita masuk kapal yang lumayan besar, sambil nunggu kapal berangkat, para penumpang yang ada dihibur dengan brigden dan juga dancing dengan musik-musik mesir yang khas yang bikin aku tersenyum sambil menikmati alunan lagu dan dancing tadi(sumpeh, musik-musik mesir itu luchu lo..). Akhirnya selang waktu kedepan, kapalpun berjalan menuju ke arah ra’sul bar yang sore tadi aku sempat pergi kesana dan poto-poto disana. Tidak seperti suasana Nil di Tahrir, sungai Nil di Dimyat jauh lebih asyik dan lebih ramai, mungkin karena ada pasar malam tadi.

Mengenai harga tiket kapal, tidak terlalu membikin kantong kempis(murah ko, cuman 1 pound). Setelah naik kapal, kita jalan-jalan sebentar sambil lihat-lihat suasana sekitar yang ramai dengan pengunjung. Habis itu, kita pulang dengan hati agak berat, senadainya dari kemarin kita tahu ada sungai Nil yang indah ini, pasti dari kemarin kita udah main kesini(mungkin kayak githu deh ceritanya).

Dimyat, 2009, 28 July

baca lagi......

Kamis, 30 Juli 2009

Suara Realita Kawan

Suara Realita Kawan



Pagi ini 28 Juli 2009, ku berjalan menyusuri salah satu pantai yang punya kesejukan tersendiri, kesejukan yang menyerupai alam pertiwi Indonesia. Aku coba mengingat bagaimana aku dulu bermain bersama kawan di pantai pertiwi, seolah sama seperti yang aku alami sekarang.



Setelah sampai kesana, aku lihat-lihat sekitar pantai, ternyata teman-temanku pergi ngga tahu kemana, tak ada satupun yang aku lihat. Aku coba berdiri sambil menekukan tangan kedadaku sambil menatap ke ujung laut yang ada di depanku ini, aku nikmati karunia yang Alloh kasih ma orang-orang di Dimyat ini.

Baru beberapa menit, aku palingkan tatapanku ini ke sekitar pantai, siapa tahu ada yang aku kenal. Akhirnya kulihat juga mereka. Terus aku kesana sambil duduk bareng, foto-foto bareng ala orang”keren”(ihiks..lagi so keren sih). Karena panasnya suasana pantai, akupun cari tempat untuk berteduh. Sungguh sejuk banget euy, angin pantai yang sepoi-sepoi menyentuh kulit lembutku ini, terasa kesegaran yang luar biasa(suegere rek..kata orang Jawa Timur).

Sambil duduk dibawah kayu yang meneduhkanku dari panas matahari, dan juga pandanganku ke arah pantai yang kebanyakan orang-orang mesir menikmati air laut Dimyat, temenku si Arman(nama samaran), mendekatiku dan ikut berteduh di bundaran kayu yang aku duduki disana. Aku coba membuka pembicaraan ma Arman tentang suasana pantai di Dimyat ini. Selain itu juga aku iseng tanya tentang hasil ujian, ternyata dia dah tahu hasilnya(enak yah, kalau aku lom tahu euy, lom turun nilainya, mudah-mudahan lulus ya rabb).

Sambil menikmati kesejukan di pantai Dimyat, akupun ngobrol seputar remaja, aku mulai dengan kata-kata yang tak asing lagi, “Man dah punya pacar lom?”. Arman bilang gini, “durung iks, padahal aku wis melu organisasi nang ngendi-ngendi tapi ijek ra ndue”. Aku hanya bisa tertawa menyindir(maklum aku dah punya cewe euy). Terus si Arman menceritakan tentang cewe yang suka ma dia di Indonesia. Dia adalah anak kyai, singkat cerita ketika ujian semester dua tahun 2009 tinggal 3 mata kuliah, si Arman nelpon si Dia tuk kasih semangat, tak taunya ketika lagi enak-enak ngobrol bapaknya datang, terus cewenya nyuruh Arman tuk ngomong hubunganya ma bapak si cewe. Bapaknya bilang ma si Arman katanya suruh ngomong ma ibunya saja. Sebelum nelpon ibu si cewe, Arman nelpon ke orang tuanya dulu tuk minta saran, orang tuanya bilang” ra usah Man, mengko malah koe kisinan”. Akhirnya semenjak itu, si Arman tidak lagi kontak ma dia.

Lalu aku ngajak Arman tuk pulang ke kos-kosan yang kita kontrak sekitar pantai itu. Di perjalanan aku bilang ma Arman kalau aku bersyukur, aku dapat beasiswa dari BZ(Baitu Zakat) dari Kuwait. Dimana dengan beasiswa itu, aku sangat-sangat terbantu dalam urusan biaya. Armanpun kemudian cerita kalau di Bu’us(asrama mahasiswa orang-orang asing di Kairo) hanya dapat beasiswa yang sangat mepet kalau di hitung-hitung buat biaya perbulan yaitu 92 Le. Bahkan kalau musim ramadhan tiba, dia bersama teman-teman yang lain harus survai dulu ke masjid-masjid yang memberikan bantuan uang. Dia ngasih tahu ke aku kalau ramadhan kemarin dapat 700 Le.

Dari tulisan ini penulis hanya ingin mengingatkan kalau kita sebagai manusia harus bisa pandai bersyukur, tidak hanya Arman yang kesusahan dalam hal biaya hidup tinggal di Kairo, tapi masih banyak saudara-saudara kita yang lebih sulit dalam hal biaya hidupnya. Tak boleh kita hanya bersenang-senang menikmati kiriman dari orang tua atau sejenis dari itu, tapi bagaimana kita gunakan uang pemberian ortu kita dengan sebaik-sebaiknya, mumpung masih dikasih ma ortu, kalau sudah disuruh nyari sendiri coba, pasti akan shock bagi orang yang pertama kali melakukanya. So, teruslah berjuang, dan gunakan kesempatan yang cemerlang ini sebaik-baiknya.
July 2009, 28

baca lagi......

Ra’sul Bar on Memory

Ra’sul Bar on Memory


Sore 28 Juli 2009 aku bersama 2 teman Ikamaru(Ikatan Mahasiswa Raudhatul Ulum Pati) melaju ke ra’sul bar. Ra’sul bar adalah pertemuan antara sungai Nil(sungai terpanjang di dunia yang panjangnya mencapai 6695 km) dengan laut tengah di Dimyat. Letak antara kos-kosan yang kita sewa dan ra’sul bar tidak terlalu jauh, kalau naik angkot cuman bayar 50 qirs( setengah pound mesir).


Walau tempatnya sederhana tapi lumayan indah. Inilah kehebatan Mesir bisa membikin tanah-tanah menjadi tempat-tempat rekreasi. Seandainya pemerintah Indonesia pintar membangun tanah-tanah dibikin tempat rekreasi, mungkin banyak income yang didapat. Coba saja kita lihat, di Indonesia banyak lho pertemuan antara sungai dan laut, tapi ngga dibikin tempat wisata.Menurutku mungkin karena anugerah Alloh yang berupa sungai Nil yang membuat ra’sul bar menjadi salah satu tempat rekreasi yang banyak dikunjungi oleh turis lokal maupun interlokal. Disamping mempunyai title the long river in the world, tapi juga sejarah yang sungai Nil perankan sungguh membuat orang mau untuk melihatnya.

Selain pemandangan yang indah, di Ra’sul Barpun ada bioskopnya juga lho. Namanya Al-Lessan Dimyat Cinema, Unik kan? Aku sempat foto-foto juga disana, ya karena memang tujuan utama piknikku cuman ambil gambar dan cari refresh aja. Tapi yang aku sayangkan aku ngga punya foto sendiri, So harus ngikut temen yang lain(ihiks..jadi sedih).

baca lagi......

The Second Tour of Memory(Syati’ 51)

The Second Tour of Memory(Syati’ 51)


Tanggal 27 Juli 2009 inilah kedua kalinya aku berekreasi setelah pertama kali tour bareng Grazeev ke Gaza, lihat pyramid dan spinx yang mungkin dulu hanya sebuah sejarah yang aku baca, tapi sekarang aku bisa menyaksikannya langsung. Sekarang giliran tour bareng anak-anak Ikamaru Pati ke tujuan pertama Dimyat beach. Pantai Dimyat ini hampir sama kayak pantai-pantai di Indonesia seperti pantai ayah di Kebumen misalnya, bedanya disini banyak tempat-tempat untuk para pengunjung sedangkan di Indonesia kebanyakan para penjual makanan walau tidak menutup realita pengunjungpun banyak.


Perjalanan kali ini banyak diiringi dengan indahnya pohon kurma yang terlihat bagus, ada perkebunan mangga dan juga tambak-tambak ikan dipinggiran jalan, sampai temen duduk sebelahku bilang “kayak di Rembang suasananya”. Perjalanan yang melelahkan dan juga bisa dijadikan memory untuk masa depan.

Tak kusangka pagi ini aku bangun jam setengah delapan pagi yang bikin aku gugup dan tergesa, bagaimana tidak coba? perjalanan tour bareng anak-anak Ikamaru yang akan berangkat jam 9 pagi, sedangkan rumahku dengan tempat kumpul untuk berangkat agak jauh dan butuh waktu sekitar 35 menit. Aku keluar dari rumah jam delapan kurang sepuluh. Bus nomer 69 arah ke kota Qotamiyah tempat tujuanku itu ternyata ngga melihatkan roda dan kacanya. Dengan kondisi badan yang tidak begitu fit(maklum baru bangun langsung siap-siap tuk berangkat) campur ngejar waktu, akhirnya 30 menit kedepan baru muncul. Cepat aku masuk mobil terus take off langsung ke tempat tujuan. Aku tidak begitu tahu tempat yang aku tuju itu, lupa sih, baru satu kali aku kesana. Tahu-tahu salah turun, padahal tempat tujuan masih jauh. Aku langsung telpon Siti Sa’adah, akhirnya diapun menjemputku( asyik ada yang jemput).

Waktu yang telah terencanakan mau berangkat jam 9 pagi, ternyata baru bisa take off jam 10.30(capek deh, kalau tahu kayak gini, aku mending chat dulu ma yang di Indo, he..). Bus berangkat jam 10.30 dengan tujuan Dimyat beach yang butuh waktu 4 jam. Tapi sebelum bersenang-senang di pantai, kita istirahat dulu di rumah yang telah kita sewa sampai nunggu waktu asar. Setelah kita solat di masjid dekat rumah, terus langsung ke beach deh. Jadi teringat suasana pantai di Indonesia nih(ihiks...pengin pulang).

Sore 27 Juli 2009, kita habiskan bareng di Dimyat beach dengan bermain bola, berenang(tapi aku ngga renang, bukanya aku ngga bisa berenang, tapi aku emang ngga bawa celana untuk berenang) dan foto-foto. Sampai waktu menunjukan jam 19.30 kita baru pulang ke rumah. Waktu isapun datang, panitia seksi acara mengadakan kumpul bareng, untuk senang bersama-sama. Sumpah, malam yang bisa dijadikan kenangan. Dari teman-teman seksi acara mengadakan lomba kecil-kecilan dan doorprize, tapi ternyata kegiatan yang sederhana kayak githu cukup attractive pendudukan Dimyat. Mereka pada nonton dan ikut bersorak(emang sih, hatiku bilang “ndeso-ndeso”, gitu aja diheranin). Ada permainan yang sederhana tapi buatku itu sangat menarik yaitu lomba memasukan pensil ke dalam botol minuman, tapi dengan kerja perkelompok empat orang(bedakan? Biasanyakan cuman satu orang aja). Ternyata hal seperti itu membuat sebagian penduduk yang tinggal disamping rumah kos-kosan kita pada tertarik.

27 July 2009
Dimyat on memory

baca lagi......

Sabtu, 11 Juli 2009

The Memory of July

The Memory of July


Liburan sudah mulai tiba, tak terasa setelah sebulan kemarin tersibukan oleh ujian kuliah yang tak tahu apa hasilnya nanti, kini saatnya mulai terbebas dengan diktat kuliah yang bikin orang tidur kurang. Di kepalapun sudah mulai terancang tempat panorama yang sungguh menakjubkan kalau dilihat, terasa ingin sekali cepat-cepat pergi untuk melihatnya. Tapi semuanya itu hanya rancangan, hanya sebuah keinginan, tetap yang menentukan cuman Alloh. Rencanaku untuk pergi berlibur ke Alexandria yang katanya sangat bagus itu ternyata hanya omongan dan keinginan saja.


Tanggal 24 Juni 2009 inilah pijakan pertama aku tersibukan oleh agenda-agenda baik itu dari Informatika yang katanya mau mengadakan tour ke Alexandria, kebetulan aku yang diminta untuk mengurus agenda ini. Selanjutnya dapat tawaran untuk membantu panitia ORMABA PPMI yang sudah terlaksana pada 6-7 Juli kemarin. Kemudian diminta oleh seksi kaderisasi KSW untuk menjadi seksi acara di LPEPM anak-anak Jateng yang sudah terlaksana pada 9 Juli kemarin, kemudian tanggal 10 diminta menjadi MC di acara Up greading Informatika untuk kru-kru baru 2009-2010. Ketiga kepanitian itu sungguh memaksaku untuk menguras banyak tenaga, sampai-sampai badan sudah mulai pegal-pegal, untung ada Ummy yang membuatku semangat selalu.

Tapi, belum selesai sampai disini, aku masih punya tugas mengurusi OPABA NU, dimana koordinator seksi acara dipegang olehku. Sebenarnya capek campur kesel kalau ngomong tentang masalah ini, tapi tak apalah, gimana ngga cape, kepanitiaan aja kurang tenaga, uangpun mepet, kerjapun tidak profesional, banyak tumpang tindih kerjaan dalam kepanitiaan, tapi bagaimanapun ini semua akan kujadikan pelajaran, karena dengan ini aku ditantang untuk lebih bisa mandiri dan tangkas dalam bergerak.

Waktu masih berjalan begitu semangatnya, matahari dan bulanpun tak bosan-bosanya menerangi alam raya, disinilah aku merasa tak cukup hanya sampai disini. Perjalanan sang pengembara masih lama, tantangan masih siap siaga didepan. Ambil kekurangan masa lalu dan pelajari untuk bisa menemukan rumus handal ketika nantinya menemukan hal-hal yang telah kita temui sebelumnya. Wake Up guys!!! Don’t be weakness.

July 2009, 11
Cairo


baca lagi......

Jumat, 26 Juni 2009

Aku kan Lakukan yang Terbaik

Aku kan Lakukan yang Terbaik

Tak semua orang menganggap dirinya mampu melakukan apa yang dia mau. Faktor yang mempengaruhi akan hal itu biasanya disebabkan oleh sebuah lafal yang kedengaranya remeh tapi pengaruhnya sangat besar “Aku tak bisa”. Kita boleh ngomong seperti itu kalau kita sudah melakukanya sendiri. Tapi terkadang kita tak seperti itu, kita kalah sebelum bertanding, belum berbuat tapi sudah menyerah duluan.


Tindakan seperti inilah yang banyak membuat kita menyesal di kemudian hari, tak cukup setahun kita menyesali tentang perbuatan kita, tapi bahkan bertahun-tahun lamanya kita akan menyesal kalau semenjak dini kita tak berusaha untuk mencegahnya.
Tantangan hidup setiap hari semakin besar, kita tak bisa pungkiri hal itu, seperti yang kita tahu, zaman global yang sudah diakui oleh banyak kaum di dunia ini memang menuntut kita untuk selalu siap dalam menghadapinya. Tak boleh kita menunggu untuk “dijajah” oleh manusia yang kita tak mengenalinya, lebih menakutkan lagi kalau kita “dijajah” oleh waktu.

Penulis biasanya tercerahkan dengan sebuah bacaan tentang orang-orang sukses di dunia, atau sebuah novel yang cenderung memotivasi seseorang untuk memaksimalkan apa yang dia miliki. Walau penulis tak bisa sepenuhnya melakukan hal yang sama seperti tokoh-tokoh dalam bacaan tadi, tapi itu jauh lebih baik dari pada tidak melakukan apapun sama sekali.

So, jangan mau kalah sama yang namanya waktu, kita harus ingat, Sang Kholiq pernah berkata ”Kami jadikan manusia di bumi ini untuk menjadi kholifah”. Kholifah(pemimpin) dalam urusan rumah tangga, agama maupun taraf pemerintahan. Let’s do the best for ourselves on our life. Cheer Up. Kita masih punya banyak waktu untuk melakukan sesuatu yang spektakuler, tentunya yang orang lain tak bisa melakukanya. Inilah yang akan menjadi kebanggaan diri dalam memory hidup kita.


baca lagi......

Jumat, 19 Juni 2009

Suara Hati Insan yang Lupa Diri

Suara Hati Insan yang Lupa Diri


Arus kehidupan berputar dengan berbagai macam rasa. Setiap hari kurasakan indahnya kehidupan. Makna yang mengalir di dalamnya begitu menakjubkan. Kini aku telah tinggal ditengah-tengah kehidupan, sudah terhitung 20 tahun, tak terasa perjalan yang singkat ini telah membawaku mengilingi berbagai macam tempat, mulai dari tanah air sendiri bahkan sampai ke negeri para nabi. Memang tak mudah kita melawati hari-hari ini jika kita memang benar-benar mau meraih buah dari kehidupan di dunia ini.


Aku melihat kebersamaan pada waktu itu membuatku seolah menjadi seorang yang terbaik diantara mereka. Seakan-akan tak ada bandingannya. Setiap ada suatu problem yang membutuhkan solusi, pandangan mereka sedikit banyak selalu mengarah padaku. Tapi tak selamanya hal seperti tadi akan berjalan terus. Seperti yang aku alami sekarang, semenjak kita berpencar, ada yang di IAIN Semarang, UIN Yogyakarta, UIN Syarif Hiddayatullah Jakarta, UIN Malang dan lainya, sekarang terasa berbeda. Kudengar banyak prestasi dari mereka yang mungkin aku belum bisa melakukanya.

Ini yang membuatku sedikit merasakan arti nilai diri dan makna akan prestasi. Akankah aku akan menjadi pecundang dihadapan mereka yang telah mengukir beberapa prestasi di kampus masing-masing. Ataukah akan menjadi orang yang disegani dikomunitas mereka? yang secara aku tidak sedikit mempunyai peluang dan kesempatan seperti halnya mereka.

Tapi setidaknya dalam tulisan yang singkat ini ada pelajaran untukku dari itu semua. Walau mereka mampu mengukir prestasi dengan jalan competition, tapi setidaknya aku yang disini mampu memberikan jawaban atas pertannyaan yang mereka lontarkan kepadaku. Itu sudah cukup membuktikan bahwa aku yang disini masih mampu bersaing dengan mereka yang mengukir prestasi di bumi pertiwi.


baca lagi......

Rabu, 06 Mei 2009

My Father’s Advices

My Father’s Advices


Perjalanan waktu terasa cepat sekali, tak terasa detik demi detik yang aku miliki lenyap dengan mudahnya tanpa menghasilkan apa-apa. Apakah ini harapanku, apakah hal seperti ini akan tetap ada dan selalu kulakukan setiap harinya. Apakah aku tak iri dengan orang-orang sukses yang kerjanya tinggal duduk di kantornya akan tetapi banyak meraih uang. Apakah aku tak mau itu?


Kalau kita mau sadar betapa tingginya nilai yang dimiliki oleh waktu, aku mungkin bisa berasumsi bahwa kebanyakan dari kita akan menggunakannya sebaik mungkin, tapi inilah pertanyaanku, mengapa aku tak sadar dengan nilai yang waktu miliki itu. Kita boleh berbeda mengenai warna kulit, berbeda bangsa dan negara, berbeda keturunan, tapi satu yang mesti kita camkan baik-baik, dia adalah “ how we can spend our time well ”.

Aku masih teringat dengan omongan-omongan ayahku. Betapa beliau ingin menyekolahkankan ke jenjang yang lebih tinggi karena waktu beliau muda cita-cita untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi belum sempat terealisasikan. Sehingga beliau selalu berucap kepadaku,” nak, aku beruntung bisa mensekolahkanmu sampai jenjang yang lebih tinggi, aku jadi merasa puas, bagaimana aku dulu sempat merasakan kesedihan karena tak mampu meneruskan sekolahku dulu, tapi sekarang aku bahagia karena kau telah membayar kekecewaan yang telah aku rasakan dulu, aku berharap padamu nak tuk menjadi orang sukses nantinya ”.

Aku tak mengira betapa besar pengorbanan ayahku untuk melakukan hal seperti ini dengan susah payah, rela meninggalkan keluarga dan melancong kesana kemari demi menyediakan fasilatas untuk anaknya dalam sekolah. Istri dan anak-anaknya beliau tinggal bertahun-tahun lamanya, sampai tau-tau anak-anaknya sudah pada tumbuh dewasa seperti sekarang ini. Aku harus sadar itu, aku ngga boleh putus asa dalam menjalani roda pendidikan ini yang selalu aja membuatku bosan dan jenuh. Tapi kalau kita mau memikirkan sejenak mengenai pendidikan, kita coba menerobos celah-celah lubang masa depan yang akan kita jumpai nantinya. Pasti kita akan menemukan, mengapa kita selalu ditekankan oleh orang tua kita untuk selalu mengembangkan diri baik itu segi intelektual maupun keterampilan. Sebab tantangan yang akan kita hadapi nanti jauh lebih sulit dari pada orde lama dan orde baru yang ayah-ayah kita rasakan pada zaman dahulu itu.

Sebelum aku merasakan penyesalan dikemudian hari, lebih baik aku siapkan langkah dan geraku ini. Aku tak mau Ayahku nanti mengalirkan air matanya untuk kedua kalinya. Aku tak mau orang disekelilingku akan mencelaku nantinya. Maka sebelum terlambat, lebih baik aku atur sebaik mungkin, memang tak semudah yang kita bayangkan, tapi apa salahnya kalau kita mau mencoba lebih dulu, sebab kebanyakan orang kalau belum mencoba untuk melakukan sesuatu yang padahal itu mudah, pasti mereka berasumsi itu sangat sulit. Berbeda dengan orang yang mau mencobanya, walau mulanya terasa sulit, tapi kalau sudah dikerjakannya pasti butir-butir kepuasan akan dia peroleh.

Penulis dalam tulisannya ini mencoba untuk memberikan gambaran kepada pembaca bagaimana orang tua kita yang kita sayangi dan hormati telah melakukan banyak pengorbanan, waktu mereka rela mereka habiskan demi kita, apakah kita masih tak mau sadar dan mengerti bagaimana mereka sangat mengharapkan kesuksesan kita nantinya. So, in the last my writing, I’ll to say, don’t make your family sadness about your actions, but make them cheers and happy.

Cairo, 2009 May, 6

baca lagi......

Selasa, 05 Mei 2009

Reach your Beautifuly Days

Reach your Beautifuly Days

Saatku berpikir untuk melakukan yang terbaik untuk masa depanku, semua terasa indah, semua terasa nampak di depan mata. Hari-hari dipenuhi semangat yang membara. Tapi tiba-tiba ada terjalan yang merintangi langkahku, terjalan yang membuat aku susah untuk melangkah. Jiwaku tak kuat untuk melewatinya, sebab kepesimisan yang aku rasakan dalam jiwaku. Hari ini adalah hari yang cukup mengukir sejarah buatku. Sebab baru kali ini aku merasakan rintangan yang luar biasa. Rintangan hidup untuk masa depan. Boleh mereka menganggap rintanganku ini bukan rintangan yang besar, bahkan ada rintangan yang lebih besar lagi. Tapi sungguh, rintangan yang aku hadapi sekarang terasa besar sekali.


Memang ketika ucapan janji tuk kuat menghadapi rintangan itu sudah aku ungkapkan. Tapi masih saja jiwa ini menangis sedu, terasa luluh dan tak bertenaga. Tapi aku berharap kepada Sang Pemilik Alam tuk selalu memberikan semangat pada jiwa yang lemah ini tuk selalu berbuat yang terbaik untuk diri sendiri dan dirinya.

Semua permasalahan yang ada di dunia ini pasti mempunyai penawar atau solusi masing-masing. Mulai dari masalah medis maupun masalah sosial kita. Semua ada penawarnya, kalau memang kita mau mencarinya dan berusaha memecahkannya. Jangan kau anggap masalah yang besar dibiarkan begitu saja, sebab permasalahan yang sekecil itupun terkadang bisa membuat fatal.

So, do the best for us. Masih banyak keindahan di bumi ini yang kita belum menemukannya. Carilah itu semua, jangan pernah kau lewati begitu aja, semudah pasir yang berterbangan ketika tertiup angin. Strive our dream, and reach your beatifuly days.

Cairo, 2009 May, 5
Tulisan ini penulis persembahkan untuk seseorang yang spesial. Penulis harap, kamu bisa menyelesaikan problemu.


baca lagi......

Rabu, 15 April 2009

Wish Coming True

Wish Coming True


Kita terkadang mempunyai obsesi untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa di alam raya ini, baik itu materi maupun spirit. Kitapun kerap mencoba melawan rintangan di depan kita. Tapi tubuh ini terkadang tak mau menerimanya, tak mau berusaha lebih keras lagi, alasan yang dibuatnyapun selalu menggiurkan untuk menuruti apa kemaunya. Penulispun demikian, semangat untuk mencapai sesuatu yang telah terukir diotak kecil ini selalu membuat penulis sadar dan siap untuk berjuang. Tapi nafsu dunia selalu mencoba mengganggu dan menutup percikan-percikan cahaya rahmat sang Pencipta. Apa yang sebenarnya terjadi?


Tapi penulis yakin, pasti ada banyak jalan untuk memecahkan problem yang tak sebesar apa yang terbayang dalam pemikiran kita ini. Sebab penulis yakin bahwa rintangan terbesar yang pasti butuh perhatian banyak dari kita itu tidak dalam waktu-waktu sekarang. Tapi waktu yang akan kita jumpai dikemudian hari nanti. Bahkan hubungannya dengan interaksi yang sifatnya tak hanya berkutat 1, 100, atau 1000 orang tapi sifatnya boleh jadi mengglobal dan mendunia.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana menggunakan kesempatan-kesempatan yang luar biasa ini, kesempatan yang Pencipta berikan pada kita saat ini. Sebab kalau kita mau melihat fenomena disekitar kita, pasti benih kesadaran dalam jiwa kita akan terbuka lebar. Apakah kita tak melihat bagaimana orang yang tak punya anggota badan lengkap dalam menghadapi alur kehidupanya. Apakah kita tak merasakan bagaimana para fakir miskin mencari sesuap nasi. Berapa besar dan kerasnya usaha yang mereka perjuangkan. Sebenarnya kalau kita benar-benar merasakan fenomena-fenomana tadi pasti usaha-usaha untuk mencapai hasil yang dibanggakan ini akan timbul. Apalagi kita yang bisa dibilang normal dan mempunyai kesempatan yang bagus untuk mengukir banyak cita.

So, ukirlah diotak kecil kita sebuah ukiran masa depan, yaitu mimpi yang mampu membawa kita menjadi salah satu orang yang beruntung di dunia ini. Sebab jika kita telah mengukirkan sebuah mimpi di otak kecil kita ini, benih-benih usahapun akan selalu setia mengiringi kita. Penulis berharap bahwa kita sebagai insan yang tak memiliki waktu tinggal yang cukup banyak di dunia ini bisa mencapai mimpi yang sekarang kita ukir. Remember, if we have chances to get our dream, lets do it, don’t waste your time.


baca lagi......